Mafia Singkong Lampung: Siapa yang Permainkan Harga di Petani?
Lampung menyandang status sebagai salah satu lumbung singkong terbesar di Indonesia, namun kehidupan para petaninya sering kali terjepit oleh praktik Mafia Singkong Lampung. Keluhan mengenai harga beli singkong yang mendadak anjlok saat musim panen raya telah menjadi lagu lama yang menyayat hati. Para petani sering kali tidak memiliki pilihan selain menjual hasil buminya dengan harga sangat murah kepada para tengkulak yang diduga bekerja sama untuk mengatur harga pasar secara sepihak. Kondisi ini membuat keuntungan justru lebih banyak dinikmati oleh perantara daripada mereka yang berkeringat di ladang.
Keberadaan Mafia Singkong Lampung bekerja dengan cara yang sangat rapi dan sistematis. Mereka sering kali memanfaatkan keterbatasan akses informasi harga dan infrastruktur transportasi para petani. Ketika stok melimpah, para oknum ini akan sengaja memperlambat penyerapan hasil panen di pabrik-pabrik pengolahan tapioka, sehingga petani yang takut singkongnya membusuk terpaksa melepaskannya dengan harga berapapun. Permainan timbangan dan potongan kadar air yang tidak transparan juga menjadi senjata rahasia bagi para mafia ini untuk menekan pendapatan petani sekecil mungkin demi keuntungan pribadi yang masif.
Menanggapi isu Mafia Singkong Lampung, pihak berwenang dan kepolisian mulai memperketat pengawasan di titik-titik pengumpulan dan pabrik pengolahan. Transparansi harga harian yang bisa diakses melalui ponsel pintar mulai disosialisasikan agar petani tidak lagi bisa dibohongi oleh informasi palsu para tengkulak. Selain itu, pembentukan koperasi petani yang kuat menjadi solusi jangka panjang agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dalam menentukan harga jual. Tanpa adanya organisasi yang solid, petani individu akan selalu menjadi mangsa empuk bagi jaringan mafia yang sudah berakar kuat selama puluhan tahun.
Selain penegakan hukum, solusi dari masalah Mafia Singkong Lampung juga harus menyentuh sisi industri hilirisasi. Jika petani memiliki kemampuan untuk mengolah singkong menjadi produk setengah jadi seperti mocaf atau keripik secara mandiri, maka mereka tidak akan lagi bergantung sepenuhnya pada pabrik besar yang sering kali menjadi bagian dari permainan harga. Inovasi teknologi pangan harus masuk ke desa-desa di Lampung untuk memberikan nilai tambah pada komoditas utama mereka. Hanya dengan cara inilah, rantai mafia yang mencekik kehidupan petani singkong bisa diputus secara permanen dan sistematis.

