CNBC Lampung

Loading

Tren Staycation: Hotel Lokal Berlomba Menawarkan Pengalaman Unik di Tengah Kota

Pandemi mengubah drastis kebiasaan berwisata masyarakat, mengalihkan fokus dari perjalanan jauh ke eksplorasi lokal. Fenomena ini memunculkan Tren Staycation, yaitu kegiatan berlibur singkat dengan menginap di hotel yang masih berada di dalam kota atau dekat dari tempat tinggal. Konsep ini menawarkan jeda singkat dari rutinitas tanpa perlu menghadapi kerumitan logistik perjalanan jarak jauh. Merespons permintaan pasar yang melonjak ini, industri perhotelan lokal kini berlomba-lomba menawarkan paket dan pengalaman yang unik, menjadikan hotel bukan sekadar tempat menginap, tetapi destinasi liburan itu sendiri.

Data dari Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan bahwa tingkat hunian (occupancy rate) hotel di kota-kota besar, terutama pada akhir pekan, mengalami peningkatan rata-rata 25% pada kuartal II 2025, sebagian besar didorong oleh Tren Staycation. Peningkatan ini memicu inovasi layanan. Hotel-hotel tidak lagi hanya menjual kamar, melainkan experience. Contohnya, Hotel The Heritage Residence di Jakarta Pusat meluncurkan paket Wellness Retreat, yang mencakup sesi yoga pagi di rooftop dengan pemandangan kota, kelas memasak makanan sehat, dan konsultasi gizi. Paket ini, yang diluncurkan pada 1 Mei 2025, langsung mendapat sambutan positif, dengan reservasi terjual habis hingga dua bulan ke depan.

Fokus baru hotel adalah menciptakan pengalaman tematik dan personal. Hotel Artisan Loft di kawasan Kuningan misalnya, bekerja sama dengan seniman lokal untuk mengubah setiap lantai menjadi galeri seni temporer, memungkinkan tamu menikmati pameran tanpa harus keluar. Di sektor keamanan dan kenyamanan, manajemen hotel juga meningkatkan protokolnya. Seluruh staf hotel, dari front office hingga housekeeping, diwajibkan melalui pelatihan simulasi pelayanan tamu yang dipimpin oleh pihak kepolisian pariwisata setempat pada 10 Juni 2025, untuk menjamin keamanan dan respons cepat terhadap segala insiden. Langkah ini penting untuk membangun kembali kepercayaan konsumen di tengah maraknya Tren Staycation.

Selain hotel mewah, akomodasi butik dan guesthouse juga memanfaatkan Tren Staycation dengan menawarkan sentuhan lokal yang lebih mendalam. Mereka fokus pada konsep homey, dekorasi etnik, dan menu makanan otentik dari daerah tersebut, memberikan nuansa berlibur yang berbeda dari suasana rumah. Manajer pemasaran Booking.com untuk Indonesia, Bapak Dimas Adiyaksa, dalam seminar pariwisata di Nusa Dua, Bali, pada 5 Juli 2025, memprediksi bahwa permintaan untuk pengalaman unik dan personal akan terus mendominasi pasar wisata domestik hingga beberapa tahun ke depan.

Kesimpulannya, Tren Staycation telah memaksa industri perhotelan untuk berinovasi dan mendefinisikan ulang makna menginap. Hotel yang mampu menawarkan tidak hanya kenyamanan tempat tidur, tetapi juga pengalaman tematik, keamanan terjamin, dan sentuhan otentik lokal, adalah mereka yang akan memenangkan persaingan di era baru pariwisata domestik ini. Ini merupakan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan kreatif.

Mengapa TN Komodo Indonesia Direncanakan Tutup Sementara? Ini Alasannya

Taman Nasional Komodo (TN Komodo), rumah bagi satwa purba ikonik, komodo, dan keindahan alam yang luar biasa, menjadi sorotan terkait rencana penutupan sementara untuk aktivitas wisata. Langkah ini tentu menimbulkan pertanyaan, mengapa destinasi wisata kelas dunia ini perlu ditutup? Berikut beberapa alasan utamanya:

Salah satu alasan krusial adalah pemulihan ekosistem. Aktivitas wisata yang intens dan terus meningkat dikhawatirkan memberikan tekanan pada lingkungan dan sumber daya alam di TN Komodo, termasuk habitat komodo dan ekosistem perairan. Penutupan sementara memberikan kesempatan bagi alam untuk “beristirahat” dan memulihkan diri.

Alasan lain yang mendasari rencana ini adalah upaya konservasi yang lebih efektif. Dengan mengurangi interaksi manusia, diharapkan populasi komodo dapat berkembang biak dengan lebih baik dan terhindar dari potensi ancaman akibat aktivitas wisatawan. Selain itu, penutupan juga memungkinkan pihak berwenang untuk melakukan kajian dan penataan kawasan konservasi secara lebih optimal.

Mendorong pengembangan destinasi wisata lain di Flores juga menjadi pertimbangan. Selama ini, kunjungan wisatawan cenderung terpusat di TN Komodo. Dengan penutupan sementara, diharapkan wisatawan akan mengeksplorasi potensi wisata lain di daratan Pulau Flores, seperti desa wisata, pantai, dan atraksi budaya, sehingga terjadi pemerataan ekonomi.

Selain itu, penutupan sementara dapat menjadi momentum untuk menata kembali pengelolaan pariwisata di TN Komodo. Ini meliputi penataan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan penertiban aktivitas ilegal yang dapat merusak lingkungan. Tujuannya adalah menciptakan pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Keputusan mengenai penutupan sementara TN Komodo masih dalam tahap kajian dan diskusi dengan berbagai pihak terkait, termasuk masyarakat lokal dan pelaku pariwisata. Pemerintah menekankan bahwa setiap keputusan akan diambil dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial secara komprehensif demi masa depan TN Komodo yang lebih baik.

Meskipun rencana penutupan sementara TN Komodo bertujuan baik untuk konservasi dan pemulihan ekosistem, keputusan ini juga menuai kekhawatiran dari pelaku pariwisata dan masyarakat lokal yang bergantung pada sektor ini. Pemerintah perlu mempertimbangkan dampak ekonomi dan mencari solusi yang adil dan berkelanjutan, mungkin melalui pembatasan kuota pengunjung atau zonasi yang ketat, alih-alih penutupan total.