CNBC Lampung

Loading

Sejarah Menara Siger: Pengetahuan Simbol Lampung

Saat melintasi Selat Sunda dan mendekati Pelabuhan Bakauheni, pandangan setiap pelancong pasti akan tertuju pada sebuah bangunan megah berwarna kuning keemasan yang berdiri kokoh di atas bukit, itulah fokus utama dalam Sejarah Menara Siger. Bangunan ini bukan sekadar mercusuar bagi para pelaut, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang merepresentasikan identitas, kehormatan, dan kebanggaan masyarakat Lampung. Dirancang oleh arsitek kenamaan Ir. Anshori Djausal, menara ini diresmikan pada tahun 2008 sebagai simbol selamat datang bagi siapa saja yang menapakkan kaki di gerbang selatan Pulau Sumatera, sekaligus menjadi ikon pariwisata yang sarat akan makna filosofis.

Dalam tinjauan Sejarah Menara Siger, bentuk bangunan ini mengambil inspirasi dari mahkota pengantin wanita tradisional Lampung yang disebut Siger. Siger sendiri memiliki sembilan rangkaian lengkungan yang melambangkan sembilan dialek atau bahasa yang ada dalam masyarakat Lampung, yang dikenal dengan filosofi Sakai Sambayan atau semangat gotong royong. Warna kuning yang mendominasi bangunan ini melambangkan kejayaan dan kemuliaan. Melalui pembangunan menara ini, pemerintah provinsi ingin menegaskan bahwa Lampung adalah daerah yang terbuka namun tetap teguh memegang teguh nilai-nilai adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman kerajaan kuno di tanah seberang ini.

Lebih dari sekadar bangunan fisik, Sejarah Menara Siger juga mencakup upaya pemerintah dalam memetakan titik nol jalur lintas Sumatera yang strategis. Dari puncak menara, pengunjung dapat menikmati panorama laut yang membentang luas serta kesibukan aktivitas logistik nasional yang menghubungkan Jawa dan Sumatera. Kehadiran menara ini telah memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya, di mana kawasan perbukitan yang dulunya sepi kini bertransformasi menjadi pusat edukasi budaya dan destinasi wisata kuliner. Pengetahuan mengenai makna di setiap sudut bangunan ini terus disosialisasikan agar generasi muda Lampung merasa memiliki akar budaya yang kuat di tengah gempuran modernitas.

Secara teknis, Sejarah Menara Siger mencatat penggunaan metode konstruksi yang tahan terhadap guncangan gempa, mengingat posisinya yang berada di zona tektonik aktif. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan simbol budaya pun harus bersinergi dengan standar keamanan teknologi modern. Di dalam menara, terdapat berbagai ruang pameran yang menampilkan sejarah perjuangan masyarakat Lampung dan kekayaan alam yang dimiliki provinsi ini.